TANDA PERSALINAN

2.1 Definisi

Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dari janin turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir                                                             (Sarwono, 2001 ).

Persalinan normal disebut juga partus spontan adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam

( Rustam Mochtar, 1998 ).

Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan ( 37 – 42 minggu ) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin

( Prawirohardjo, 2001 ).

2.2 Etiologi

Apa yang menyebabkan terjadinya persalinan belum diketahui benar, yang ada hanyalah merupakan teori-teori yang komplek antara lain ditemukan faktor hormonal, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh prostaglandin, pengaruh tekanan pada syaraf dan nutrisi.

  1. Teori penurunan hormonal

1 – 2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesteron turun.

  1. 2. Teori plasenta menjadi lebih tua

Yang akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron sehingga menyebabkan kekejangan pembuluh darah. Hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.

  1. 3. Teori distensi rahim

Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot-otot sehingga mengganggu sirkulasi utero placenta.

  1. 4. Teori iritasi mekanik

Dibelakang serviks terletak ganglion servikale (Frankenhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus

  1. 5. Induksi partus ( Induction of labour )

Partus dapat pula ditimbulkan dengan jalan : rangsang laminaria, amniotomi, dan oksitosin drips. (Rustam Mochtar, 1998).

2.3 Tanda dan gejala persalinan

Persalinan dimulai (inpartu) sejak  uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks.

  1. Tanda permulaan persalinan

Pada permulaan persalinan / kata pendahuluan ( Preparatory stage of labor ) yang terjadi beberapa minggu sebelum terjadi persalinan, dapat terjadi tanda-tanda sebagai berikut :

a)      Lightening atau setting / deopping, yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida.

b)      Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.

c)      Perasaan sering kencing ( polikisuria ) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.

d)      Perasaan sakit diperut dan dipinggang karena kontraksi ringan otot rahim dan tertekannya fleksus frankenhauser yang terletak pada sekitar serviks (tanda persalinan false-false labour pains).

e)      Serviks menjadi lembek, mulai mendatar karena terdapat kontraksi otot rahim.

f)        Terjadi pengeluaran lendir, dimana lendir penutup serviks dilepaskan dan bisa bercampur darah (Bloody show).

  1. Tanda-tanda inpartu sebagai berikut :

a)      Kekuatan dan rasa sakit oleh adanya his datang lebih kuat, sering dan teratur dengan jarak kontraksi yang semakin pendek.

b)      Keluar lendir bercampur darah yang lebih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.

c)      Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.

d)      Pada pemeriksaan dalam dijumpai perubahan serviks : perlunakannnya, pendataran, dan terjadinya pembukaan serviks ( Manuaba, 1998).

2.4 Faktor-faktor yang penting dalam persalinan antara lain :

  1. Power ( kekuatan mendorong janin keluar ) terdiri dari :

a. His ( kontraksi uterus )

Merupakan kontraksi dan relaksasi otot uterus yang bergerak dari fundus ke   korpus sampai dengan ke serviks secara tidak sadar.

b.Kontraksi otot dinding rahim.

c. Kontraksi diafragma pelvis / kekuatan mengejan.

  1. Passanger meliputi :

a. Janin

b.Plasenta

  1. Passage ( jalan lahir ) terdiri dari :

a. Jalan lahir keras yaitu tulang pinggul (os coxae, os sacrum / promontorium, dan os coccygis)

b.Jalan lahir lunak : yang berperan dalarn persalinan adalah segmen bahwa rahim, seviks uteri dan vagina, juga otot-otot, jaringan ikat dan ligamen yang menyokong alat urogenital.

2.5 Fase – Fase dalam Kala Satu Persalinan

Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya) hingga serviks membuka lengkap 10 cm. Kala satu persalinan terdiri atas dua fase yaitu fase laten dan fase aktif.

Fase laten pada kala satu persalinan

  • Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan
  • Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm
  • Pada umumnya fase laten berlangsung hampir atau 8 jam
  • Kondisi mulai teratur tetapi lamanya masih di antara 20 – 30 detik.

Fase pada kala satu persalinan

  • Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap (kontraksi dianggap adekuat / memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama 40 detik atau lebih)
  • Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap atau 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata – rata 1 cm perjam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 cm hingga 2 cm (multipara).
  • Terjadi penurunan bagian terbawah janin

2.6 Gejala dan Tanda Kala Dua Persalinan

  • Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi
  • Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rectum dan vaginanya
  • Perineum menonjol
  • Vulva vagina dan spingter ani membuka
  • Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah

Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam informasi obyektif yang hasilnya adalah :

  • Pembukaan serviks telah lengkap atau
  • Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina

2.7 Pemantauan selama kala dua persalinan

kondisi ibu, bayi dan kemajuan persalinan harus selalu dipantau secara berkala dan ketat   selama berlangsungnya kala dua persalinan.

Pantau, periksa dan catat :

  • Nadi ibu setiap 30 menit
  • Frekuensi dan lama kontraksi setiap 30 menit
  • DJJ setiap selesai meneran atau setiap 5- 10 menit
  • Penurunan kepala bayi setiap 30 menit melalui pemeriksaan abdomen (periksa luar) dan periksa dalam setiap 60 menit atau jika ada indikasi, hal ini dilakukan lebih cepat
  • Cairan ketuban jika selaputnya sudah pecah (jernih atau bercampur mekonium atau darah)
    • Apakah ada presentasi majemuk atau tali pusat disamping atau terkemuka
    • Putaran paksi luar segera setelah kepala bayi lahir
    • Kehamilan kembar yang tidak diketahui sebelum bayi pertama lahir
    • Catatkan semua pemeriksaan dan intervensi yang dilakukan pada catatan persalinan.

2.8 Tanda – tanda bahaya persalinan

  1. Bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak terasa mulas
  2. Keluar darah dari jalan lahir sebelum melahirkan
  3. Tali pusat atau tangan/kaki bayi terlihat pada jalan lahir
  4. Tidak kuat mengejan
  5. Mengalami kejang-kejang
  6. Air ketuban keluar dari jalan lahir sebelum terasa mulas
  7. Air ketuban keruh dan berbau
  8. Setelah bayi lahir, ari-ari tidak keluar
  9. Gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat
  10. Keluar darah banyak ketika bayi lahir

Add a comment Juni 14, 2010

Dampak Anemia dan Kekurangan Energi Kronik pada Ibu Hamil

Kondisi anemia dan Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil mempunyai dampak kesehatan terhadap ibu dan anak dalam kandungan, antara lain meningkatkan risiko bayi dengan berat lahir rendah, keguguran, kelahiran premature dan kematian pada ibu dan bayi baru lahir. Hasil survey menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil masih sangat tinggi, yaitu 51 persen,dan pada ibu nifas 45 persen. Sedangkan prevalensi wanita usia subur (WUS) menderita KEK pada tahun 2002 adalah 17,6 persen. Tidak jarang kondisi anemia dan KEK pada ibu hamil menjadi penyebab utama terjadinya perdarahan, partus lama, aborsi dan infeksi yang merupakan faktor kematian utama ibu.

Malnutrisi bukan hanya melemahkan fisik dan membahayakan jiwa ibu, tetapi juga mengancam keselamatan janin. Ibu yang bersikeras hamil dengan status gizi buruk, berisiko melahirkan bayi berat badan lahir rendah 2-3 kali lebih besar dibandingkan ibu dengan status gizi baik, disamping kemungkinan bayi mati sebesar 1.5 kali.

Salah satu cara untuk mengetahui status gizi Wanita Usia Subur (WUS) umur 15-49 tahun adalah dengan melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Hasil pengukuran ini bisa digunakan sebagai salah satu cara dalam mengidentifikasi seberapa besar seorang wanita mempunyai risiko untuk melahirkan bayi BBLR. Indikator Kurang Energi Kronik (KEK) menggunakan standar LILA <23,5cm. Dari hasil survei BPS tahun 2000-2005 gambaran risiko KEK yang diukur berdasarkan LILA menurut kelompok umur menunjukkan bahwa persentase wanita usia subur dengan LILA < 23.5 cm (berisiko KEK) umur 15-49 tahun rata-rata adalah 15.49.

Penelitian Saraswati dan Sumarno (1998) menunjukkan bahwa ibu hamil dengan kadar Hb <10 g/dl mempunyai risiko 2.25 kali lebih tinggi untuk melahirkan bayi BBLR dibandingkan dengan ibu hamil dengan kadar Hb di atas 10 g/dl , dimana ibu hamil yang menderita anemia berat mempunyai risiko untuk melahirkan bayi BBLR 4.2 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang tdak anemia berat.

Informasi yang dikumpulkan oleh Sub Commitee on Nutrition WHO menunjukkan bahwa paling sedikit satu diantara dua kematian ibu di negara sedang berkembang adalah akibat anemia gizi besi. Suatu studi di Indonesia pada 12 rumah sakit pendidikan pada akhir tahun 1970 melaporkan bahwa angka kematian ibu di kalangan penderita anemia adalah 3.5 kali lebih besar dibandingkan dengan golongan ibu yang tidak anemia. Apabila kadar hemoglobin kurang dari 8 gr%, risiko kematian maternal meningkat sekitar delapan kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita tidak anemia.

Disparitas kematian ibu antar wilayah di Indonesia masih cukup besar dan masih relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN misalnya resiko kematian ibu karena melahirkan di Indonesia adalah 1 dari 65, dibandingkan dengan 1 dari 1.100 di Thailand. Pada tahun 2002 angka kematian ibu (AKI) di Indonesia angka 307 per 100.000 kelahiran hidup. Dari lima juta kelahiran yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya, diperkirakan 20.000 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan.

Tingkat kematian bayi di Indonesia masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN, yaitu 4,6 kali lebih tinggi dari Malaysia, 1,3 kali lebih tinggi dari Filipina, dan 1,8 kali lebih tinggi dari Thailand. Beberapa penyebab kematian bayi dapat bermula dari masa kehamilan 28 minggu sampai hari ke-7 setelah persalinan (masa perinatal). Penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah karena pertumbuhan janin yang lambat, kekurangan gizi pada janin, kelahiran prematur dan berat badan bayi lahir yang rendah, yaitu sebesar 38,85%. Sedangkan penyebab lainnya yang cukup banyak terjadi adalah kejadian kurangnya oksigen dalam rahim (hipoksia intrauterus) dan kegagalan nafas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir (asfiksia lahir), yaitu 27,97%. Hal ini menunjukkan bahwa 66,82% kematian perinatal dipengaruhi pada kondisi ibu saat melahirkan. Jika dilihat dari golongan sebab sakit, kasus obstetri terbanyak pada tahun 2005 adalah disebabkan penyulit kehamilan, persalinan dan masa nifas lainnya yaitu 56,09%.

Terbebas dari kelaparan dan malnutrisi sekaligus mendapat nutrisi yang baik adalah hak asasi manusia. Malnutrisi membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit dan kematian dini. Dengan kecenderungan seperti ini, pencapaian target MDG untuk menurunkan AKI dan AKB akan sulit bisa terwujud kecuali apabila dilakukan upaya yang lebih intensif untuk mempercepat laju penurunannya. [admin2/dari berbagai sumber]

Add a comment Juni 14, 2010

10 TANDA BAHAYA PERSALINAN

Wanita hamil dan yang tengah merencanakan kehamilan harus mendapat perhatian ekstra. Mereka harus rutin melakukan tes kesehatan untuk meminimalisir gangguan yang berdampak buruk bagi kesehatan ibu dan janin.

Perhatian ekstra perlu dilakukan hingga proses persalinan rampung. Sebab, masalah seringkali muncul justru saat proses persalinan berjalan. Demi keselamatan ibu dan bayi, waspadai beberapa masalah saat persalinan berikut ini:

1. Bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak terasa mulas

2. Keluar darah dari jalan lahir sebelum melahirkan

3. Tali pusat atau tangan/kaki bayi terlihat pada jalan lahir

4. Tidak kuat mengejan

5. Mengalami kejang-kejang

6. Air ketuban keluar dari jalan lahir sebelum terasa mulas

7. Air ketuban keruh dan berbau

8. Setelah bayi lahir, ari-ari tidak keluar

9. Gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat

10. Keluar darah banyak ketika bayi lahir

Jangan remehkan masalah-masalah tersebut saat persalinan. Dalam kondisi semacam itu, perlu penanganan medis yang sifatnya darurat demi keselamatan ibu dan bayi.

Add a comment Juni 14, 2010

MEKANISME PERSALINAN NORMAL

Selama proses persalinan, janin melakukan serangkaian gerakan untuk melewati panggul – “seven cardinal movements of labor” yang terdiri dari :

1.       Engagemen

2.       Fleksi

3.       Desensus

4.       Putar paksi dalam

5.       Ekstensi

6.       Putar paksi luar

7.       Ekspulsi

Gerakan-gerakan tersebut terjadi pada presentasi kepala dan presentasi bokong.

Gerakan-gerakan tersebut menyebabkan janin dapat mengatasi rintangan jalan lahir dengan baik sehingga dap[at terjadi persalinan per vaginam secara spontan.

Engagemen

•        Suatu keadaan dimana diameter biparietal sudah melewati pintu atas panggul.

•        Pada 70% kasus, kepala masuk pintu atas panggul ibu pada panggul jenis ginekoid dengan oksiput melintang (tranversal)

•        Proses engagemen kedalam pintu atas panggul dapat melalui proses normal sinklitismus , asinklitismus anterior dan asinklitismus posterior :

o        Normal sinklitismus : Sutura sagitalis tepat diantara simfisis pubis dan sacrum.

o        Asinklitismus anterior : Sutura sagitalis lebih dekat kearah sacrum.

o        Asinklitismus posterior: Sutura sagitalis lebih dekat kearah simfisis pubis (parietal bone presentasion

Fleksi

Gerakan fleksi terjadi akibat adanya tahanan servik, dinding panggul dan otot dasar panggul.

Fleksi kepala diperlukan agar dapat terjadi engagemen dan desensus.

Bila terdapat kesempitan panggul, dapat terjadi ekstensi kepala sehingga terjadi letak defleksi (presentasi dahi, presentasi muka).

Desensus

Pada nulipara, engagemen terjadi sebelum inpartu dan tidak berlanjut sampai awal kala II; pada multipara desensus berlangsung bersamaan dengan dilatasi servik.

Penyebab terjadinya desensus :

1.       Tekanan cairan amnion

2.       Tekanan langsung oleh fundus uteri pada bokong

3.       Usaha meneran ibu

4.       Gerakan ekstensi tubuh janin (tubuh janin menjadi lurus)

Faktor lain yang menentukan terjadinya desensus adalah :

•        Ukuran dan bentuk panggul

•        Posisi bagian terendah janin

Semakin besar tahanan tulang panggul atau adanya kesempitan panggul akan menyebabkan desensus berlangsung lambat.

Desensus berlangsung terus sampai janin lahir.

Putar paksi dalam- internal rotation

•        Bersama dengan gerakan desensus, bagian terendah janin mengalami putar paksi dalam pada level setinggi spina ischiadica (bidang tengah panggul).

•        Kepala berputar dari posisi tranversal menjadi posisi anterior (kadang-kadang kearah posterior).

•        Putar paksi dalam berakhir setelah kepala mencapai dasar panggul.

Ekstensi

Aksis jalan lahir mengarah kedepan atas, maka gerakan ekstensi kepala harus terjadi sebelum dapat melewati pintu bawah panggul.

Akibat proses desensus lebih lanjut, perineum menjadi teregang dan diikuti dengan “crowning”

Pada saat itu persalinan spontan akan segera terjadi dan penolong persalinan melakukan tindakan dengan perasat Ritgen untuk mencegah kerusakan perineum yang luas dengan jalan mengendalikan persalinan kepala janin.

Episiotomi tidak dikerjakan secara rutin akan tetapi hanya pada keadaan tertentu.

Proses ekstensi berlanjut dan seluruh bagian kepala janin lahir.

Setelah kepala lahir, muka janin dibersihkan dan jalan nafas dibebaskan dari darah dan cairan amnion. Mulut dibersihkan terlebih dahulu sebelum melakukan pembersihan hidung.

Setelah jalan nafas bersih, dilakukan pemeriksaan adanya lilitan talipusat sekitar leher dengan jari telunjuk. Lilitan talipusat yang terjadi harus dibebaskan terlebih dahulu. Bila lilitan talipusat terlalu erat dapat dilakukan pemotongan diantara 2 buah klem.

Putar paksi luar- external rotation

Setelah kepala lahir, terjadi putar paksi luar (restitusi) yang menyebabkan posisi kepala kembali pada posisi saat engagemen terjadi dalam jalan lahir.

Setelah putar paksi luar kepala, bahu mengalami desensus kedalam panggul dengan cara seperti yang terjadi pada desensus kepala.

Bahu anterior akan mengalami putar paksi dalam sejauh 450 menuju arcus pubis sebelum dapat lahir dibawah simfisis.

Persalinan bahu depan dibantu dengan tarikan curam bawah pada samping kepala janin .

Setelah bahu depan lahir, dilakukan traksi curam atas untuk melahirkan bahu posterior.

Traksi untuk melahirkan bahu harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari cedera pada pleksus brachialis.

Setelah persalinan kepala dan bahu, persalinan selanjutnya berlangsung pada sisa bagian tubuh janin dengan melakukan traksi pada bahu janin.

Setelah kelahiran janin, terjadi pengaliran darah plasenta pada neonatus bila tubuh anak diletakkan dibawah introitus vagina.

Penundaan yang terlampau lama pemasangan klem pada talipusat dapat mengakibatkan terjadinya hiperbilirubinemia neonatal akibat aliran darah plasenta tersebut.

Sebaiknya neonatus diletakkan diatas perut ibu dan pemasangan dua buah klem talipusat dilakukan dalam waktu sekitar 15 – 20 detik setelah bayi lahir dan kemudian baru dilakukan pemotongan talipusat diantara kedua klem.

Sutriani.wordpress.com

Ditulis dalam kebidanan

Add a comment Juni 14, 2010

Motor Penggerak yang Langka di Desa

Bidan diletakkan di garda depan pelayanan kesehatan dasar untuk menurunkan angka kematian ibu. Peran yang sedemikian strategis tidak dibarengi dengan adanya bidan di semua desa.

Suandriyani yang akrab dipanggil Aan (31 ta­hun), bidan di daerah Pe­gantenan Madura, se­tiap harinya disibukkan dengan melayani ibu ha­mil atau balita yang memiliki berbagai ke­luhan dari batuk sampai mencret. Ada periode tertentu ia sedikit ‘stres’ tatkala menangani persalinan yang mengalami gangguan. Jika begitu, dan ia tidak bisa menanganinya, maka ia pun bersiap-siap un­tuk memindahkan pasien. “Kalau ada kesulitan, maka dirujuk ke RSUD,” ujar­nya dalam perbincangan dengan Farmacia. Untunglah, tidak sulit mencari alat transportasi. Dengan sistem kekeluargaan yang kuat, maka ia atau keluarga ibu yang hendak melahirkan dengan mudah mencari pinjaman penduduk yang memi­liki kendaraan. Hari-hari lain, ia sibuk men­data ibu hamil trimester pertama agar kehamilannya tetap dipantau hingga masa persalinan yang tertangani dengan baik. Dan meski kegiatan-kegiatan tersebut menyita waktu dan perhatian, ia meng­aku sangat menikmatinya.

Aan, mungkin tidak menyadari, rutinitas yang dijalaninya sangat berpengaruh terhadap angka kematian ibu di Indo­ne­sia. Dan beban untuk menurunkan angka kematian ibu ini, salah satunya, bahkan yang paling depan, memang terletak pa­da bidan. Perannya strategis sebagai mi­tra perempuan yang memberikan dukung­an saat kehamilan, saat ataupun pasca kelahiran, dan bayi yang baru lahir. Dan Aan adalah satu di antara ribuan bidan de­sa yang terserak di negeri ini.

Program desa siaga yang digulirkan pemerintah juga menempatkan bidan pa­da posisi yang penting. “Bidan desa di­perlukan sebagai motor penggerak desa siaga,” ujar Dra. Harni Koesno, MKM, Ke­tua Umum PP Ikatan Bidan Indonesia.

Sayangnya, dengan peran bidan yang besar tersebut, ternyata tidak semua de­sa terisi bidan. “Dari sekitar 69.957 de­sa di Indonesia hanya ada sekitar 30.236 bidan di desa,” ujar Harni. Pem­beritaan di berbagai media pun me­nga­barkan sejumlah de­sa yang mengeluhkan tidak adanya tenaga kesehatan. Dae­rah-daerah tersebut men­de­sak agar pemerintah menempatkan te­naga kesehatan, se­perti bidan.

Awalnya, sudah ada sekitar 54 ribu bi­dan yang ditempatkan didesa sejak dilaksanakan program penempatan bidan di desa tahun 1989. Namun berangsur-ang­sur pula, bidan berkurang hingga hampir setengahnya. Ada berbagai penyebab bi­dan meninggalkan desa. “Ada yang me­lan­jutkan sekolah, menikah dan meng­ikuti suami, atau mendapat pekerjaan di ko­ta,” ujarnya.

“Selamat Tinggal, Desa”

Desa, terutama de­sa terpencil, nam­pak­­nya be­lum memberikan daya tarik yang cukup besar untuk mengundang te­naga kesehat­an. Dalam situs de­sen­trali­sasi-ke­sehatan diungkapkan berbagai fak­tor yang mempe­ngaruhi rendahnya mi­nat bidan untuk bekerja di desa terpencil, ber­dasarkan peneli­tian So­lihin da­ri Dinas Ke­se­hatan Jam­bi pada ta­hun 2004. Fa­si­li­tas trans­­portasi di desa khu­­­susnya de­­sa terpencil masih menjadi pe­nyebab ter­kendalanya pelaksa­na­an program-program kesehatan yang dilaksa­nakan oleh bidan. Pa­da mu­sim hujan ja­lan menjadi le­bih sulit untuk dilalui. Pa­da­hal me­reka tidak dapat me­nunda waktu pa­sien untuk dirujuk ketika ada kasus darurat.

Selain itu bidan juga dituntut mampu berperan sebagai tokoh atau pemuka ma­syarakat selain peran utamanya dalam me­lak­sa­na­kan upaya-upaya kesehatan di desa yang menjadi wilayah kerja­nya. Tang­gung jawab ini dirasakan sangat be­rat karena keterbatasan kemampuan da­lam memecahkan perma­sa­lahan yang di­ha­dapi di desa terlalu jauh.

Faktor lain yang turut mempengaruhi rendahnya minat bidan bekerja di desa ter­pen­cil masih dalam pengamatan So­li­hin, adalah bangunan ru­mah pe­mon­dok­an bi­dan desa masih kurang layak hu­ni ka­rena keterbatasan dana pem­ba­ngun­an. Din­dingnya ha­nya ter­buat dari papan dan ma­­sih dapat diintip. Lo­ka­sinya ter­ka­dang jauh dari masya­ra­kat bahkan ada yang ter­­letak di tepi kuburan dan di pinggir su­ngai. Hal ini diper­pa­rah dengan kondisi sa­ni­tasi yang buruk. Ketidakpuasan bi­dan terhadap perkembangan karir turut mempengaruhi pada akhirnya mereka heng­kang dari desa.

Aan, mungkin salah satu dari sekian bi­­dan yang tidak merasakan kendala yang cukup berarti saat melaksanakan tu­gasnya. Cerita lain datang dari daerah yang masih berdekatan dengan Jakarta, yaitu Cianjur. Daerah selatan Cianjur ma­sih memiliki kondisi geografis yang cukup sulit. “Untuk pertolongan persalinan, bi­dan harus naik ojek beberapa jam agar sampai ke tempat persalinan,” ujar Tien Atang, Ketua IBI daerah Cianjur kepada Farmacia. Demikian pula jarak dari desa ke puskesmas yang cukup jauh. Saat ini, ada sekitar 60 desa yang tidak memiliki bidan. Pada akhirnya, 1 bidan harus meng-cover lebih dari satu desa.

Masyarakat juga kadang lebih memilih untuk melakukan persalinan di dukun ber­anak. Apalagi di beberapa daerah, pela­yan­an yang diberikan dukun beranak umumnya berupa ‘paket lengkap’. Si ibu me­lahirkan akan dirawat, ditunggui, atau dimasakkan makanan, hingga masa 40 ha­ri setelah melahirkan. Demikian juga ba­yi yang dilahirkan selama masa tersebut akan dirawat.

Seorang bidan yang pernah ditempat­kan sebagai bidan PTT di daerah Purwa­kar­ta, mengatakan ada hambatan lain yang menyebabkan bidan meninggalkan desa. “Bagaimana berinteraksi dengan ma­­sya­ra­kat merupakan tantangan be­sar,” ujar dia.

Harni mengatakan, bahwa kendala yang dihadapi bidan desa bisa berasal da­ri tiga hal. Kendala pertama adalah ber­­asal dari bidan itu sendiri, seperti ku­rang peka atau kurang adaptasi. Yang lain adalah dari masyarakat seperti partisipasi masyarakat yang ku­rang, sosial bu­da­ya masyarakat, dan pe­ne­rimaan ma­sya­rakat terhadap bidan. Ken­dala ketiga adalah dari pemerintah yang kurang mem­perhatikan keadaan bi­dan di desa, misalnya tempat tinggal, atau kebutuhan hidupnya. “Hal ini harus sama-sa­ma dipi­kir­kan dari tiga dimensi tersebut,” ujar is­tri Prof. Koesno Sas­tro­mihardjo ini.

Bekal yang Cukup

Maka, menurut Harni, sebelum terjun ke desa siaga, bidan harus dibekali de­ngan berbagai hal, yaitu kemampuan un­tuk memberikan pelayanan klinik kebi­dan­an, seperti antenatal care, intranatal care, pertolongan bayi baru lahir, pera­wat­an pasien nifas, dan pelayanan KB. Ke­mampuan khusus yang harus dimiliki bidan adalah identifikasi dan peta kasus wilayah, analisis sosial, serta diagnosa masalah tersebut. Bidan juga harus da­pat memahami sosial budaya ma­sya­ra­kat, menjalani program, dan melakukan adaptasi dengan masyarakat. “Yang sa­ngat penting adalah bidan harus bisa ber­adaptasi dengan masyarakat dan tinggal dengan masyarakat. Jadi, bidan desa bu­kan tinggal di kota. Sebagai motor penggerak desa siaga, bidan harus bersama dengan masyarakat,” ujar wanita kelahir­an Magetan ini.

Yang tak kalah penting, terkait dengan proses persalinan, bidan harus dapat meng­upayakan donor darah, jika ada perdarahan saat persalinan. Bidan juga ha­rus dapat mengupayakan tersedianya ken­daraan jika nantinya ada rujukan. “Di­upayakan untuk dapat melakukan koordinasi pengadaan kendaraan, misalnya de­ngan mendata anggota masyarakat yang memiliki alat transportasi,” ujar ibu 4 anak ini.

Pendidikan di akademi kebidanan, bo­leh dikatakan adalah untuk pencapaian akademik yang belum sampai pada kompetensi program. “Untuk menjadi bidan di desa siaga, diperlukan tambahan pelatih­an tersendiri,” ujar Harni. Saat ini sudah tersedia modul di pusdiklat depkes. “Jika dilihat kurikulumnya, sudah standar ideal, jadi bidan bisa ditempatkan di tempat yang sudah memiliki UKBM (Upaya Ke­sehatan Berbasis Masyarakat) atau yang bakal merintis UKBM.”

Harni optimis kebutuhan bidan yang di­perlukan dalam rangka program desa siaga akan dapat terpenuhi. “Tenaga ke­bidanan bisa dipenuhi dari institusi pendidikan yang cukup banyak, sekitar 412 D3 kebidanan,” katanya. “Program dari Depkes juga begitu kuat, jadi kolabora­si­nya melibatkan multi sektor, jadi baik di­nas kesehatan atau pengurus IBI juga terlibat untuk pemenuhan kebutuhan desa.”

Kebutuhan bidan juga bisa dipenuhi dari bibit daerah. Di Cianjur, sebanyak 39 lulusan SLTA disekolahkan pendidikan bi­dan di Bandung, untuk lalu kembali ke de­sa dan mengelola kesehatan di daerah asal­nya.

Add a comment Maret 5, 2010

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

1 komentar Maret 5, 2010

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Jun    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts